https://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/issue/feedProsiding Seminar Nasional Widya Husada2020-12-10T14:49:22+07:00Open Journal Systems<p style="text-align: justify;"><strong><a title="Prosiding Seminar Nasional Widya Husada" href="https://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/index">Prosiding Seminar Nasional Widya Husada</a></strong> adalah kumpulan makalah dan hasil presentasi yang dipresentasikan dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Widya Husada. Seminar ini bertujuan untuk mempertemukan para akademisi, profesional, dan praktisi di bidang kesehatan, pendidikan, dan ilmu pengetahuan lainnya, untuk berbagi informasi, pengetahuan, dan temuan terbaru di bidang terkait. Dalam prosiding ini, peserta seminar dapat menemukan berbagai artikel yang mencakup topik-topik terkini yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta inovasi dalam berbagai disiplin ilmu. Prosiding ini tidak hanya menjadi wadah untuk menyebarkan hasil penelitian dan gagasan baru, tetapi juga memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas pendidikan serta layanan kesehatan di Indonesia.</p> <p style="text-align: justify;"> </p> <p style="text-align: justify;">Prosiding Seminar Nasional Widya Husada juga memberikan platform bagi para peneliti, dosen, mahasiswa, serta profesional untuk berdiskusi, bertukar ide, dan memperluas jaringan keilmuan mereka. Sebagai bahan referensi ilmiah, prosiding ini berfungsi untuk memperkaya literatur yang ada, sekaligus mendorong kolaborasi lintas disiplin ilmu.</p>https://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/242HUBUNGAN STIGMA MASYARAKAT DENGAN BEBAN KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK RETARDASI MENTAL DI SLB NEGERI SEMARANG2019-11-14T13:20:27+07:00Shuhita Mulyanashuhitamuliyana@gmail.comMariyati Mariyatimaryhamasah@gmail.comMenik Kustriyanimtriyanie@yahoo.co.id<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p align="center"><strong> </strong></p><p>Stigma masyarakat merupakan ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang yang telahdiberi label sebagai orang yang memalukan dan melekat pada tubuh seseorang dipengaruhi lingkungan masyarakat. Jumlah anak retardasi mental yang paling tinggi adalah 10.143 anak. Stigma masyarakat juga terjadi pada keluarga dengan anak yang memiliki retardasi mental. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan dengan beban keluarga yang memiliki anak retardasi mental yang ada di SLB Negeri Semarang.</p><p>Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif korelasi denganpendekatan cross sectional dan instrumen penelitian dengan menggunakan kuesioner. Teknik sampel yang digunakan adalah Teknik Simple Random Sampling. Populasinya dengan jumlah 90 siswa dan jumlah sampel 73 siswa. Analisis data yang digunakan yaitu uji Rank Spearman.</p><p>Hasil dari penelitian ini didapatkan dari 31 responden dengan stigma masyarakat tinggi yang memiliki bebankeluarga berat sebanyak 18 orang tua (24,7%), 39 responden dengan stigma masyarakat sedang yang memiliki beban keluarga sedang sebanyak 30 orang (41,1%), dan 3 responden dengan stigma masyarakat rendah semua memiliki beban keluarga sedang. Hasil uji Rank Spearman didapatkan nilai p value< (0,000< 0,05) dengan koefisien korelasi 0,681 yang artinya hubungan antara stigma masyarakat dengan beban keluarga adalah kuat.</p><p>Ada hubungan stigma masyarakat dengan beban keluarga yang memiliki anak retardasi mental diSekolah Luar Biasa Negeri Semarang</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> </em></p><p><em>Community stigma a negative trait attached to the person of someone who has been labeled as someone who is shameful and attached to someone's body influenced by the community's environment. The highest number of mental retardation children is 10,143 children. Community stigma also occurs in families with children who have mental retardation. The purpose of this study was to determine the relationship with the burden of families with mentally retarded children in SLB Negeri Semarang.</em></p><p><em>This study uses quantitative research with a descriptive correlation method with cross sectional approachand research instruments using a questionnaire. The sample technique used the Simple Random Sampling Technique. The population 90 students and the sample is 73 students. Analysis of the data used is the Spearman Rank test.</em></p><p><em>The results of this study were obtained from 31 respondents with high community stigma who had a heavyfamily burden of 18 parents (24.7%), 39 respondents with moderate community stigma who had a moderate family burden of 30 people (41.1%), and 3 respondents with low community stigma all have moderate family burdens. Rank Spearman test results obtained p value <</em><em> (0,000 <0.05) with a correlation coefficient of 0,681 which means that therelationship betwe</em><em>en the stigma of society and family burden is strong.</em></p><p><em>The conclusion that there a relationship of community stigma with the burden of families who havemental retardation children in SLB Negeri Semarang.</em></p><p><em> </em></p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Stigma of society, mental retardation, family burden</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/243STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN IBU TENTANG STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PRA SEKOLAH2019-11-14T13:20:27+07:00Inna Antrianainnanasya@gmail.comSuyanti Suyantiynt_agst@yahoo.co.id<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p> </p><p>Stimulasi adalah perangsangan dan latihan-latihan terhadap kepandaian anak yang datangnya dari lingkungan diluar anak. Ibu memiliki peran yang penting dalam memberikan stimulasi kepada anak. Kurangnya stimulasi dari orang tua dapat mengakibatkan keterlambatan perkembangan anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengetahuan ibu tentang stimulasi perkembangan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Banjaran Kabupaten Majalengka. Desain penelitian ini adalah deskriptif. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki anak pra sekolah sebanyak 162 responden di wilayah kerja UPTD Puskesmas Banjaran Kabupaten Majalengka Tahun 2019. Instrument penelitian ini menggunakan kuisioner dengan jumlah 20 pertanyaan. Analisa data disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.Hasil yang diperoleh yaitu sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang (84%) tentang stimulasi perkembangan anak pra sekolah. Upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan ibu adalah dengan melakukan penyuluhan.</p><p> </p><p><strong>Kata kunci :</strong> pengetahuan, stimulasi, perkembangan, anak, pra sekolah</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> </em></p><p><em>Stimulation is the activities and exercises to stimulate the intelligence of children that come from the external environment of the child. The mother has an important role in stimulating the child. Lack of stimulation from parents can result in delayed development of the child. This study aims to describe the knowledge of mothers about child development stimulation in the work area of Banjaran Community Health Care Unit Majalengka District. This was a descriptive study. The population of this study was all mothers who had pre-school children as many as 162 respondents in the work area of Banjaran CHC Unit Majalengka District in 2019. The study instrument used a questionnaire with a total of 20 questions. Data analysis was presented in the form of frequency distribution. The results showed that the majority of respondents had less knowledge (84%) about development stimulation among pre-school children. An effort that can be performed to increase the knowledge of mothers is by conducting counseling.</em></p><p><em> </em></p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> knowledge, stimulation, development, children, pre-school</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/244HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PROTEKSI RADIASI BAGI KESEHATAN MATA MAHASISWA PRODI DIII TEKNIK RONGTEN WIDYA HUSADA2019-11-14T13:20:27+07:00Didik Wahyudi,didik_pakem@yahoo.comMuhamad Kholildidik_pakem@yahoo.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p align="center"><strong> </strong></p><p>Penurunan visus banyak ditemukan pada anak-anak dalam bentuk miopia atau rabun jauh. Selama tiga puluh tahun terakhir, prevalensi miopia meningkat cepat. WHO memperkirakan insidens miopia 23% di seluruh dunia akan meningkat hingga 50% pada tahun 2050.Radiografer menjadi pekerja yang rentan akan radiasi pengion yang akan mempengaruhi kesehatan secara umum dan kesehatan penglihatan sehubungan dengan frekuensi paparan yang bemuara pada dosis radiasi yang diterima tubuh.</p><p><strong>Tujuan penelitian u</strong>ntuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa prodi DIII TRO tentang bahaya radiasi yang berhubungan dengan proteksi radiasi bagi kesehatan mata.</p><p><strong>Manfaat Penelitian </strong>Untuk meningkatkan keilmuan peneliti meningkatkan pengalaman penelitian dan berguna dalam proteksi radiasi bagi kesehatan mata untuk calon radiogafer yang rentan terpapar bahaya radiasi saat bekerja nantinya.</p><p><strong>Metode </strong>penelitian ini adalah<strong> </strong><em>Cross Sectional</em><strong>,</strong> penelitian ini mencari hubangan tingkat pengetahuan mahasiswa DIII TRO tentang bahaya radiasi terhadap kesehatan mata.Analisis data terdiri dari analisis univariat yang disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi dari masing – masing variabel dan analisis bivariat menggunakan uji statistik rank spearman.</p><p><strong>Hasil </strong>Berdasarkan jenis kelamin, sebanyak 33 mahasiswa laki-laki, sedangkan sisanya 17 mahasiswa perempuan. Ada hubungan antara pengetahuan responden dengan perilaku proteksi radiasi bagi kesehatan mata di DIII TRO STIKES Widya Husada pada Tahun 2019.Ada hubungan antara sikap responden dengan perilaku proteksi radiasi bagi kesehatan mata di DIII TRO STIKES Widya Husada pada Tahun 2019</p><p><strong>Simpulan</strong> Perlu menambah pengetahuan tentang proteksi radiasi untuk kesehahatan penglihatan.Sebaiknya membiasakan menggunkan pelindungan yaitu APD lead apron dan kacamata pelindung.</p><p> </p><p><strong>Kata kunci</strong> : Pengetahuan,sikap, prilaku, Radiasi, Mata</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em><br /> Visual impairment is found in children in the form of myopia or nearsightedness. Over the past thirty years, the prevalence of myopia has increased rapidly. WHO estimates that the incidence of myopia by 23% worldwide will increase by 50% by 2050. Radiographers become workers who are vulnerable to ionizing radiation which will affect general health and vision health in relation to the frequency of exposure that is mild at the dose of radiation received by the body.</em><em> </em></p><p><em>The purpose of this study was to determine the level of knowledge of DIII TRO study program students about the dangers of radiation associated with radiation protection for eye health.</em><em></em></p><p><em>Benefits of Research To enhance scientific research researchers enhance research experience and are useful in radiation protection for eye health for radiogafer candidates who are vulnerable to radiation hazards when working later.</em><em></em></p><p><em>The method of this research is Cross Sectional, this research looks for relationship between the level of knowledge of DIII TRO students about the dangers of radiation to eye health. Data analysis consists of univariate analysis presented in the form of frequency distribution table of each variable and bivariate analysis using Spearman rank statistical test.</em><em></em></p><p><em>Results</em><em> </em><em>Based on gender, there were 33 male students, while the remaining 17 were female students. There is a relationship between respondent's knowledge and radiation protection behavior for eye health in DIII TRO STIKES Widya Husada in 2019. There is a relationship between respondent's attitude and radiation protection behavior for eye health in DIII TRO STIKES Widya Husada in 2019</em><em></em></p><p><em>Conclusion It is necessary to increase knowledge about radiation protection for the health of vision. It is better to use the protection of APD lead apron and protective glasses</em></p><p><em> </em></p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: Knowledge, attitude, behavior, radiation, eyes</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/245PELAKSANAAN PROGRAM KENDALI MUTU PESAWAT SINAR-X DI INSTALASI RADIOLOGI RSI SULTAN AGUNG SEMARANG2019-11-14T13:20:27+07:00Kesawa Sudarsihkekeyragil@gmail.comSiti Rosidahrosidah.siti@gmail.comTrisna Budiwatitrisna.ramantisan88@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p><strong> </strong></p><p>Menurut Kepmenkes No. 1250 tahun 2009, untuk menjaga kualitas dan keselamatan pelayanan maka kegiatan kendali mutu pada pesawat sinar-X perlu dilakukan secara berkala dan mempunyai nilai standar. Berdasarkan observasi, program kendali mutu pesawat sinar-X sudah dilakukan sejak tahun 2016 meliputi pengujian kolimator, apron dan focal spot. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui prosedur dan hasil analisis pelaksanaan program kendali mutu pesawat sinar-X di Instalasi radiologi di RSI Sultan Agung Semarang. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Penelitian dilakukan di RSI Sultan Agung Semarang bulan Desember 2018 sampai dengan Agustus 2019.<strong> </strong>Subyek penelitiannya adalah pesawat Sinar- X, <em>Merk </em>GE XR6000 dan <em>Siemens Luminous</em> RF <em>Classic</em>. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Penelitian menunjukkan bahwa di Instalasi Radiologi RSI Sultan Agung Semarang sudah memiliki tim kendali mutu yang terdiri dari Fisikawan Medis dan Petugas Proteksi Radiasi, serta memiliki SPO dalam melakukan tupoksi. Pengujian kolimator dan focal spot hanya dilakukan setiap 6 bulan sekali. Sedangkan pengujian pada komponen yang lain dilakukan setiap 2 tahun sekali bersama rekanan karena keterbatasan alat. Pelaksanaan program <em>Quality Control</em> di Instalasi Radiologi RSI Sultan Agung Semarang belum berjalan secara maksimal. Sebaiknya tugas Tim kendali mutu melaksanakan semua tugas pokok dan fungsinya sesuai dengan SPO yang sudah dibuat. Jika diperlukan mengadakan kerja sama dengan vendor atau institusi pendidikan dalam uji kendali mutu.</p><p> </p><p>Kata Kunci : <em>Quality Control, </em>Instalasi Radiologi RSI Sultan Agung Semarang</p><p align="center"><strong> </strong></p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> </em></p><p><strong><em>Background</em></strong><em>: According to the Minister of Health Decree No. 1250 of 2009, to maintain the quality and safety of services, quality control activities on X-ray unit should be done regularly and have a standard value. Based on observations, the X-ray unit quality control program has been carried out since 2016 including collimators, apron, and focal spot.. <strong>Objective:</strong> Determine the procedures and results of the analysis of the implementation of an X-ray unit quality control program at the Radiology Department at Sultan Agung Semarang Hospital. <strong>Method</strong>: </em><em>This type of research is descriptive qualitative. The research was conducted at Sultan Agung Semarang Hospital in December 2018 until August 2019. The research subjects were X-ray unit, with the type GE XR 6000 and Siemens Luminous RF Classic. Data collecting by observation and interview. <strong>Result</strong>: The results showed that the Radiology Departmen of the Sultan Agung Semarang Hospital, have quality control team consisting of Medical Physicists and Radiation Protection Officers, who had Standard Operating Procedures (SOP) in carrying out their duties and functions. Collimator and focal spot testing was done every 6 months. The other tests have done together with their partners every 2 years, because of they have limited equipment. <strong>Conclusion</strong>: Quality Control Program of General X-ray Unit at Radiology Department in Sultan Agung Semarang Hospital has not done optimally. Quality Control Team should have doing their job according to SOP. <strong>Suggestion</strong>: If needed, they can cooperate with the vendor or educational institution to do Quality Control Test.</em><em></em></p><p><strong><em> </em></strong></p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Quality Control, Radiology Department of Sultan Agung Semarang Hospital</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/246TELEMONITORING GAS MEDIS2019-11-14T14:21:53+07:00Basuki Rahmatbasuki1975@yahoo.co.id<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p><strong> </strong></p><p>Instalasi gas medis merupakan salah satu perangkat penunjang dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Ketersediaan gas medis merupakan suatu hal yang sangat penting demi menjamin ketersediaan gas medis dalam suatu instalasi gas medis, sistem monitoring tekanan outlet tabung gas sangat diperlukan. Penempatan ruang instalasi gas medis biasanya jaraknya jauh dengan ruang operator sehingga dapat mengakibatkan terganggunya ketersediaan gas medis karena terlambat dalam mengganti tabung gas pada saat isi dari tabung gas medis telah habis, terutama untuk gas Oksigen.</p><p>Berdasarkan masalah yang telah timbul tersebut diatas , maka peneliti berkeinginan merancang suatu sistem yang dapat memantau ketersediaan gas medis dan menginformasikan kepada petugas gas medis dimanapun dan kapanpun, sehingga ketersedian gas medis akan selalu terpantau. Model sistem monitoring yang akan dirancang dibuat menggunakan pemantauan jarak jauh ( tele monitoring ) dengan memanfaatkan jaringan komunikasi telephon seluler, maka diperlukan sebuah modem yang bisa mengirim pesan kepada petugas gas medik, dimana sistem pengolah sinyalnya menggunakan Mikrokontroler Atmega328 (Arduino) yang digunakan sebagai moderator yang mengaktifkan modem untuk mengirim pesan kondisi ketersedian gas medis ke petugas jaga instalasi gas medis melalui pesan singkat ke nomor telepon petugas jaga.</p><p> </p><p>Kata Kunci : Tele Monitoring, Gas Medis, Sistem Kontrol, Modem, Telephone Seluler</p><p> </p><h3 align="center"><em>Abstract</em></h3><h3 align="center"><em> </em></h3><p><em>Medical gas installation is one of the supporting devices in health services in hospitals. The availability of medical gas is a very important thing to ensure the availability of medical gas in a medical gas installation, a gas cylinder outlet pressure monitoring system is needed. Placement of medical gas installation room is usually far away from the operator's station so that it can result in disruption of the availability of medical gas due to being late in replacing the gas cylinder when the contents of the medical gas cylinder have run out, especially for Oxygen gas.</em></p><p><em>Based on the problems that have arisen above, the researchers intend to design a system that can monitor the availability of medical gas and inform medical gas officials wherever and whenever, so that the availability of medical gas will always be monitored. Monitoring system model that will be designed is made using remote monitoring (tele monitoring) by utilizing cellular telephon communication network, so we need a modem that can send messages to medical gas officials, where the signal processing system uses Atmega328 Microcontroller (Arduino) which is used as a moderator Activate modem to send medical gas availability condition messages to the guard officer of the medical gas installation via a short message to the guardian's telephone number.</em><em></em></p><p><strong><em> </em></strong></p><em>Keywords ; Tele Monitoring, Medical Gas, Control System, Modem, Mobile Phone</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/247PERBEDAAN INFORMASI CITRA CT SCAN KEPALA PADA KASUS STROKE NON HEMORAGIC DENGAN VARIASI NILAI WINDOW WIDTH (Di Instalasi Radiologi RSUD. Dr. R. Soeprapto Cepu)2019-11-14T14:23:06+07:00Mega Indah Puspitamegaindahpuspita@gmail.comFadli Felayanimegaindahpuspita@gmail.comDaniel Manurungmegaindahpuspita@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p align="center"><strong> </strong></p><p><strong>Latar Belakang :</strong><em> Window width</em> semakin tinggi maka terlihat semakin kurang kontras. Instalasi Radiologi RSUD Cepu, <em>ww </em>belum ada standar, <em>ww </em>kasus<em> snh</em> menggunakan protokol tersetting pabrikan. <strong>Tujuan</strong><strong> :</strong> Mendapatkan <em>ww </em>yang tepat dengan kualitas citra terbaik. <strong>Metode : </strong>penelitian eksperimen, variasi <em>ww </em>90, 95, 100, 105, 110. Analisis data dengan uji normalitas data dengan uji Kolmogorov Sprinov. Uji normalitas dihasilkan <em>p></em>0,05, dikatakan data berdistribusi normal. Uji ini digunakan statistik non parametrik. Data diperoleh dari sampel yang sama sehingga data penelitian data berpasangan sehingga uji beda yang sesuai Paired T Test. <strong>Hasil : </strong>uji univariat anatomi tertinggi <em>ww</em> 90, anatomi semakin menurun ketika <em>ww</em> dinaikkan. Dilakukan uji beda <em>ww</em> 100 yang menjadi protokol RSUD Cepu dengan variasi <em>ww</em> lainya. Uji beda menggunakan Paired T Test, nilai anatomi <em>ww</em> 90 sebesar 22,9 signifikan berbeda dengan <em>ww</em> 100 sebesar 19,5. Selisih mean diantara keduanya sebesar 3,4 dapat dihitung ww 90 dapat menaikkan informasi anatomi sebesar 17,44 %. <em>ww</em> 95 dan 105 dihasilkan nilai yang tidak terdapat perbedaan. <em>ww</em> 110 menghasilkan anatomi lebih rendah 18,9 dibandingkan <em>ww</em> 100. <strong>Kesimpulan :</strong> <em>ww</em> 90 menjadi pertimbangan protokol standar.</p><p> </p><p>Kata Kunci : CT Scan Kepala, <em>Stroke non hemoragic</em>, variasi <em>ww</em></p><p><strong> </strong></p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p align="center"><strong><em> </em></strong></p><p><strong><em>Background :</em></strong><em> The higher the window width, the less contrast will appear. Radiology Installation of Cepu Hospital, there are no standards yet, but in this case using a factory-set protocol.<strong>Objective :</strong> Getting the right ww with the best image quality</em><strong><em> Method :</em></strong><em> </em><em>experimental research, variations ww 90, 95, 100, 105, 110. Data analysis with data normality test with the Kolmogorov Sprinov test. Normality test produced p> 0.05, said data were normally distributed. This test uses non-parametric statistics. Data is obtained from the same sample so that the research data is paired so that the difference test is suitable for Paired T Test. <strong>Results : </strong>highest anatomical univariate test ww 90, anatomy decreases when ww is raised. Different WW 100 tests were used in the Cepu Regional Hospital protocol with other WW variations. Different test using Paired T Test, the anatomical value of ww 90 of 22.9 is significantly different from ww 100 of 19.5. The mean difference between them by 3.4 can be calculated ww 90 can increase anatomical information by 17.44%. WW 95 and 105 produced values that are no difference. WW 110 yields lower anatomy of 18.9 compared to WW 100. <strong>Conclusion :</strong> WW 90 takes into consideration the standard protocol.</em></p><p><em> </em></p><em>Keywords: Head CT Scan, Non-hemorrhagic stroke, ww variation</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/248GAMBARAN PERAWAT DALAM PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI RSUD DR H SOEWONDO KENDAL2019-11-14T14:25:07+07:00Arifianto Arifiantoarif.dok82@gmail.comDwi Nur Ainidwi.nuraini00@gmail.comMenik Kustriyanimtriyanie@yahoo.co.id<p align="center"><strong>ABASTRAK</strong></p><p align="center"><strong> </strong></p><p>Infeksi nosokomial dirumah sakit bisa terjadi karena banyaknya pasien yang dirawat dalam satu ruangan yang memungkinkan terjadinya kontak langsung maupun tidak langsung dengan agen penyebab infeksi yang berdampak merugikan klien karena harus menjalani perawatan di rumah sakit lebih lama akibatnya biaya yang dikeluarkan menjadi lebih besar dan parahnya dapat mengakibatkan kematian. Tujuan dari penelitian adalahuntuk mengeksplorasi Gambaran Pencegahan Infeksi Nosokomial di RSUD dr. H. Soewondo Kendal.Metode penelitian menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan dalam penelitian ini adalah perawat. Penentuan sampel menggunakan <em>purposive sampling</em>. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam terhadap informan dengan menggunakan alat perekam suara.Hasil penelitian dapat mengidentifikasi beberapa tema yang berkaitan dengan tujuan penelitian yaitu pengetahuan perawat terhadap infeksi nosokomial, pelaksanaan kebersihan tangan dengan melakukan cuci tangan, pelaksanaan penggunaan APD, dan pemisahan limbah rumah sakit. Saran bagi perawat diharapkan lebih memperhatikan dan meningkatkan pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit sebagai upaya menjaga keselamatan pasien.</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci</strong>: Perawat, Pencegahan Infeksi Nosokomial</p><p> </p><p align="center"><strong><em>ABSTRAC</em></strong><strong><em>K</em></strong></p><p align="center"><strong><em> </em></strong></p><p><em>Nosocomial infections in hospitals can occur because of the large number of patients treated in one room that allows direct or indirect contact with the infectious agent that has a detrimental effect on the client because they have to undergo treatment in the hospital longer as a result the costs incurred become larger and the severity can result Dead. The purpose of the study was to explore the description of the prevention of nosocomial infections in RSUD dr. H. Soewondo Kendal. The research method uses a qualitative research design with a phenomenological approach. The informants in this study were nurses. Determination of the sample using purposive sampling. Data collection by in-depth interviews with informants using voice recording devices. The results of the study can identify several themes related to the research objectives, namely nurses' knowledge of nosocomial infections, the implementation of hand hygiene by washing hands, implementing PPE use, and separating hospital waste. Suggestions for nurses are expected to pay more attention and improve the prevention of nosocomial infections in hospitals as an effort to maintain patient safety.</em></p><em>Keywords: Nurses, Prevention of Nosocomial Infection</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/249HUBUNGAN PIJAT BAYI DENGAN KENAIKAN BERAT BADAN BAYI USIA 0 – 3 BULAN DI PMB DEWI PADAHANTEN KECAMATAN SUKAHAJI KABUPATEN MAJALENGKA2019-11-14T13:20:27+07:00Ayu Idaningsihayu.idaningsih@yahoo.comLia Natalialianataliahaning@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p align="center"><strong> </strong></p><p>Pijat bayi bermanfaat bukan saja untuk bayi itu sendiri tetapi juga ibunya. Disamping membina ikatan kasih sayang orang tua dan anak (bonding) sentuhan dan pandangan kasih sayang orang tua pada bayinya, dasar perkembangan komunikasi dalam memupuk cinta kasih secara timbal balik. Namun kenyataannya ilmu kesehatan tentang pijat bayi masih belum diketahui oleh masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pijat bayi dengan kenaikan berat badan bayi usia 0-3 bulan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional dengan pendekatan <em>cross sectional. </em>Populasinya seluruh bayi usia 0-3 bulan yang ada di PMB Dewi Padahanten Kecamatan Sukahaji Kabupaten Majalengka sebanyak 205 bayi. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, jumlah sampel sebanyak 30 bayi. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat menggunakan uji statistik <em>Chi Square</em>.</p><p>Hasil uji statistik diperoleh <em>p value</em> sebesar 0,028<0,05 yang berarti <em>p value</em> < α, maka ada hubungan antara pijat bayi dengan kenaikan berat badan bayi.</p><p>Kenaikan berat badan bayi usia 0-3 bulan dipengaruhi status gizi baik dan mempengaruhi pola pertumbuhan pada bayi butuh peranan tenaga kesehatan dan masyarakat bersama-sama menjaga status gizi para bayi serta membiasakan menerapkan metode sentuh pijat bayi sebagai salah satu alternative membantu meningkatkan berat badan.</p><p> </p><p>Kata Kunci : Pijat Bayi 0-3 bulan</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p align="center"><strong><em> </em></strong></p><p><em>Baby massage is useful not only for the baby but also for the mother. It can develop the bonding of parents and children through the touch and view of parental love for their babies as the basis for the development of communication in </em><em>developing</em><em> mutual love. In fact, health science about baby massage is still unknown. This study aims to determine the relationship between baby massage and weight gain among infants aged 0-3 months. This was a correlational analytic study with cross sectional approach. The population was all infants aged 0-3 months at Midwife Dewi Padahanten, Sukahaji Subdistrict, Majalengka District namely 205 infants. Sampling was conducted using purposive sampling technique to involve 30 infants as the samples. The analysis used was univariate and bivariate analysis using the Chi Square statistical test.</em></p><p><em>Statistical test result obtained p value of 0.028 <0.05 that <</em><em>a</em><em>. There was a relationship between baby massage and weight gain.</em></p><p><em>Weight gain among infants aged 0-3 months was influenced by good nutritional status and optimal infant growth need the role of healthcare providers and the community together to maintain the nutritional status of infants and to apply baby massage as an alternative to help increase body weight.</em></p><em><br /> <strong>Keywords:</strong> Massage among infants aged 0-3 months</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/250SISTEM INFORMASI PENJADWALAN PEMELIHARAAN DAN KALIBRASI ALAT KESEHATAN2019-11-14T13:20:27+07:00Mulyono Mulyonomulyonopjk@gmail.comPrima Widyawati Wardaningsihmulyonopjk@gmail.comAgung Satrio Nugrohomulyonopjk@gmail.com<p align="center"><strong>ABSTRAK</strong></p><p> </p><p>Dalam instansi Rumah Sakit terdapat banyak sekali alat kesehatan yang dipakai untuk melanyani pasien. Sedangkan jumlah teknisi elektromedis sangat terbatas. sehingga perlu adanya suatu sistem yang bisa mengetaui prioritas alat mana saja yang perlu segera dilakukan inspeksi dan pemeliharaan preventif maupun kalibrasi. Untuk penentuan jumlah inspeksi yang perlu dilakukan didasarkan dari nilai Equipment Management. Pada penelitian ini dibuat sistem informasi penjadwalan pemeliharaan dan kalibrasi berbasis <em>web</em> dengan bahasa pemprograman <em>PHP</em> dengan pengolahan basis datanya menggunakan <em>MySql</em>. Untuk menggambarkan interaksi user dengan sistem dibuat menggunakan <em>use case</em> sedangkan pemodelan alir aktifitas user dalam sistem dibuat dalam bentuk actifity diagram kemudian interaksi user dengan sistem berdasarkan urutan waktunya digambarkan menggunakan sequen diagram. Sistem informasi yang dibuat untuk mengetahui jadwal pemeliharaan dan kalibrasi disajikan informasinya secara mudah dan cepat yang bisa disajikan secara <em>real time</em>.</p><p><strong> </strong></p><strong>Kata kunci:</strong> Penjadwalan pemeliharaan, Equipment Management, Penjadwalan kalibrasi2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/251KAJIAN EVALUASI MANAJEMEN SDM PERAWAT DI RUANG INTENSIF ICU DALAM PENGGUNAAN APD (ALAT PELINDUNG DIRI)2019-11-14T15:35:45+07:00Yarmaliza Yarmalizayarmaliza@utu.ac.idTeungku Nih Farisniteungkunihfarisni@utu.ac.idFitriani Fitrianifitriani@utu.ac.id<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p align="center"><strong> </strong></p><p>Motivasi merupakan bentuk dukungan atau penggerak yang memberikan semangat buat seseorang. Studi pendahuluan terhadap perawat yang kurang menghiraukan alat pelindung diri (APD) ketika mendesak dalam menangani pasien, kemudian penyediaan yang terkadang habis membuat petugas kurang menghiraukan pemakaian APD seperti masker. Tahun 2017 sebesar 19-25% angka infeksi nasokomial. Tujuan penelitian untuk mengetahui analisis motivasi dan sikap perawat dalam penggunaan alat pelindung diri. Penelitian ini dilaksanakan di Diruang Intensiv ICU Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh pada 06-18 September 2018. Metode penelitian dengan desain <em>cross sectional survey</em>. Populasi seluruh perawat diruang Intensiv ICU 36 orang perawat, teknik pengambilan sampel menggunakan <em>total sampling. </em>Analisis data dengan univariat dan bivariat menggunakan uji <em>chi-square.</em> Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara faktor motivasi dan sikap dalam penggunaan alat pelindung diri (APD) (<em>P.Value</em> < 0,05)). Disimpulkan adanya hubungan yang signifikan antara faktor motivasi dan sikap perawat dalam penggunaan alat pelindung diri (APD). Disarankan kepada pihak Rumah Sakit untuk terus melakukan pengawasan terhadap perawat dalam penggunaan APD saat melakukan tindakan keperawatan dengan meningkatkan motivasi dan memperhatikan sikap perawat.</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci : Motivasi, Sikap, APD, Perawat</strong></p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p align="center"><strong><em> </em></strong></p><p><em>Motivation is a form of support or mobilization that gives people enthusiasm. Preliminary studies of nurses who are less concerned about personal protective equipment (PPE) when urging in handling patients, then provision that sometimes runs out makes officers less concerned about the use of PPE such as masks. In 2017, it was 19-25% of the number of nasocomial infections. The purpose of this study was to determine the analysis of nurses' motivation and attitudes in the use of personal protective equipment. The research was carried out in the ICU Intention Room in the Cut Nyak Regional General Hospital Dhien Meulaboh on September 6-18, 2018. The research method was cross sectional survey design. Population of all nurses in ICU Intensive Services 36 nurses, sampling technique using total sampling. Univariate and bivariate data analysis used the chi-square test. The results showed a significant relationship between motivation and attitude factors in the use of personal protective equipment (PPE) (P.Value <0.05)). It was concluded that there was a significant relationship between motivational factors and nurses' attitudes in the use of personal protective equipment (PPE). It is recommended to the Hospital to continue to supervise nurses in the use of PPE when taking nursing actions by increasing motivation and paying attention to nurses' attitudes.</em><em></em></p><p><strong><em> </em></strong></p><strong><em>Keywords: Motivation, Attitude, PPE, Nurse</em></strong>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/269PENGARUH INTERVENSI KEPERAWATAN NON FARMAKOLOGI AROMATERAPI JAHE TERHADAP MUAL MUNTAH PASIEN POST OPERASI2019-11-14T13:20:27+07:00Triana Arisdianiarisdiani86@gmail.comAhmad Asyrofiahasyrofi@yahoo.co.id<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p align="center"><strong> </strong></p><p>Pendahuluan : Mual dan muntah atau yang lebih sering disebut Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan masalah yang sering muncul pada pasien post operasi. Mual dan muntah yang terjadi jika tidak ditangani akan memperpanjang masa rawat pasien, meningkatkan biaya perawatan dan menambah stressor bagi pasien sehingga perawat harus benar-benar memahami kondisi mual dan muntah yang terjadi pada pasien. Metode : Penelitian merupakan Randomized Clinical Trial menggunakan metode Single Blind dengan jumlah sampel 60 responden terdiri dari 30 responden dalam kelompok intervensi dan 30 responden dalam kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling dan penentuan kelompok intervensi dan kontrol dengan randomisasi alokasi subjek sederhana. Hasil : Hasil penelitian didapatkan nilai p=0,010 yang menunjukkan ada perbedaan yang bermakna/signifikan score mual muntah antara kelompok kontrol dan intervensi. Diskusi : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aromaterapi jahe memberikan pengaruh dalam menurunkan skor mual muntah (PONV) pada pasien post operasi. Saran: Aromaterapi jahe supaya dapat diterapkan sebagai bagian intervensi keperawatan dalam pemberian asuhan keperawatan pasien post operasi.</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci :</strong> aromaterapi jahe, mual muntah, post operasi</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> </em></p><p><em>Introduction: Nausea and vomiting or more commonly called Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) is a problem that often arises in postoperative patients. Nausea and vomiting that occurs if left untreated will prolong the patient's stay, increase the cost of care and increase stressors for the patient so nurses must really understand the condition of nausea and vomiting that occurs in patients. Methods: The research was a Randomized Clinical Trial using the Single Blind method with a sample of 60 respondents consisting of 30 respondents in the intervention group and 30 respondents in the control group. The sampling technique uses consecutive sampling and the determination of intervention and control groups by randomization of simple subject allocations. Results: The results obtained p value = 0.010 which showed a significant / significant difference in the score of nausea and vomiting between the control and intervention groups. Discussion: The results of this research indicate that ginger aromatherapy has an effect on reducing the nausea of vomiting (PONV) in postoperative patients. Suggestion: Ginger aromatherapy can be applied as part of nursing interventions in providing post-operative nursing care for patients.</em></p><p><em> </em></p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> ginger aromatherapy, nausea, vomiting, post surgery</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/252PENGARUH PEMBERIAN PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS (INFORMED CONSENT) KASUS PEMBEDAHAN TERHADAP PEMAHAMAN TENTANG TINDAKAN MEDIS PADA PASIEN POST OPERASI DI RUANG BEDAH RSUD ARJAWINANGUN KABUPATEN CIREBON2019-11-14T14:19:09+07:00Sri Wahyuniyuyunyuni363@gmail.comRahayu Setyowatirsetyowati31@gmail.com<p align="center"><strong>ABSTRAK</strong></p><p> </p>Rumah sakit merupakan salah satu penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Pelayanan yang diberikan antara lain tindakan bedah. Dalam pelaksanaannya setiap rumah sakit harus mempunyai prosedur tetap sebagai acuan pelaksanaan kegiatan, salah satu isinya antara lain mewajibkan semua dokter yang akan melakukan tindakan bedah agar memberikan informasi penjelasan kepada pasien sebelum tindakan dilaksanakan yang disebut informed consent atau persetujuan tindakan medik (PTM). Persetujuan Tindakan Medik (PTM) adalah persetujuan yang diberikan pasien atau keluarganya atas dasar informasi dan penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan. Secara umum PTM merupakan persetujuan yang diperoleh dokter sebelum melakukan pemeriksaan, pengobatan dan tindakan medik apapun yang akan dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengaruh pemberian Persetujuan tindakan medis kasus pembedahan terhadap pemahaman tentang tindakan medis pada pasien post operasi di Ruang bedah RSUD Arjawinangun yang berjumlah 92 responden yang dilakukan bulan April 2019. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey dengan pendekatan deskriptif korelasi. Berdasarkan karakteristik pasien diketahui bahwa informasi persetujuan (informed consent) dapat dipahami semua karakteristik pasien, lebih dari setengahnya (51%) pasien memiliki pemahaman yang baik tentang tindakan medis kasus pembedahan pada pasien post operasi. Berdasarkan hasil perhitungan pada variabel produk diketahui bahwa thitung8.656 < ttabel 1.66196 dengan taraf signifikansi 0,000 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Kata kunci : pemahaman,persetujuan tindakan medis,pasien2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/253HUBUNGAN CARING PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN KELUARGA PASIEN DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RSUD dr. H SOEWONDO KENDAL2019-11-14T13:20:27+07:00Nana Rohanamaryhamasah@gmail.comMariyati Mariyatimaryhamasah@gmail.comFatmah Fatmahmaryhamasah@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p align="center"><strong> </strong></p><p><em>Caring </em>dalam keperawatan merupakan sebuah proses interpersonal yang bertujuan untuk memberikan rasa aman dan nyaman terhadap seseorang. Perawatan di ICU dapat menyebabkan kekhawatiran tidak terduga yang menyebabkan ketidaknyamanan pada keluarga, sehingga dengan adanya<em>caring </em>perawat yang baik maka ketidaknyamanan atau kecemasan yang dirasakan keluarga dapat berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan <em>caring </em>perawat dengan tingkat kecemasan keluarga pasien di ruang <em>intensive care unit</em> (ICU).Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode <em>deskriptif korelasi </em>dengan pendekatan <em>cross sectional.</em> Populasinya adalah keluarga pasien di ruang <em>intensive care unit</em> (ICU) RSUD Dr. H Soewondo Kendal. Pengambilan data menggunakan kuesioner kemudian dilakukan pengolahan data dengan uji statistik <em>Rank Spearman</em>.</p><p>Penelitian dengan menggunakan uji korelasi <em>Rank Spearman</em> dapat diketahui nilai r<sub>s</sub>= -0.549 dan <em>p value</em> sebesar 0,002 (<α=0.05) maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti ada hubungan antara <em>caring</em> perawat dengan tingkat kecemasan keluarga pasien di ruang <em>intensive care unit</em> (ICU) RSUD Dr.H Soewondo Kendal.Ada hubungan antara <em>caring</em> perawat dengan tingkat kecemasan keluarga pasien di ruang <em>intensive care unit</em> (ICU) RSUD Dr.H Soewondo Kendal.</p><p><strong> </strong></p><p><strong>Kata Kunci</strong> :<em>Caring</em>, tingkat kecemasan, keluarga, ICU</p><p align="center"><strong> </strong></p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p align="center"><strong><em> </em></strong></p><p><em>Caring in nursing is an interpersonal process which aims to provide the safe and comfort for people. Caring process in the ICU may cause unexpected worries that cause discomfort in the family, so that with the good caring of the nurses, inconvenience or anxiety felt by the family can be reduced. This study aims to analyze the correlation between nurse’s caring and anxiety levels of patient’s family in the intensive care unit (ICU).</em></p><p><em>This study uses a quantitative with a method descriptive corelation with the approach of sectional. The population is patient’s family in the intensive care unit (ICU) RSUD Dr. H Soewondo Kendal and number of samples 30 respondent. Retrival data using questionnaires then then the data processing performed by Rank Spearman statistical test.</em></p><p><em>This researched by Rank Spearman correlation test can be know r<sub>s</sub> = -0.549 and p value = 0,002 (<α=0.05) so Ha accepted and Ho refused which mean there is relationship between nurse’s caring and anxiety level of patient’s family in intensive care unit (ICU) of RSUD Dr. H Soewondo Kendal.There is relationship between nurse’s caring and anxiety level of patient’s family in intensive care unit (ICU) of RSUD Dr. H Soewondo Kendal.</em></p><p><strong><em> </em></strong></p><strong><em>Keyword : </em></strong><em>Caring, anxiety, family, ICU</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/254IMPLEMENTASI TUGAS BIDAN DALAM MENOLONG PERSALINAN TERKAIT DENGAN PERATURAN MENTERI KESEHATAN NO 97 TAHUN 2014 (STUDY KASUS DI KAB. KENDAL)2019-11-14T14:26:11+07:00Ambar Dwi Erawatiambarerawati@gmail.comRinayati Rinayatirinayati82@gmail.comSri Wahyuningwahyuning2803@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><h6>Dalam rangka menurunkan AKI pemerintah mengeluarkan kebijakan yaitu Peraturan Menteri Kesehatan No 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa sesuah Melahirkan, Penyelenggaraan Kontrasepsi serta Pelayanan Kesehatan Seksual dimana dalam pasal 14 disebutkan persalinan harus di Fasilitas Kesehatan. Bidan sesuai dengan Permenkes no 28 tahun 2017 tentang Ijin Penyelenggaraan praktik bidan, bidan diberi kewenangan dalam menolong persalinan. survey pendahuluan yang dilakukan peneliti di bidan S Kab. Kendal mengatakan pertolongan persalinan harus dilakukan di Puskesmas. Tujuan Utama dalam penelitian ini adalah menemukan gejala yang ada di wilayah penelitan terkait dengan implementasi tugas bidan dalam hal ini menolong persalinan terkait dengan Peraturan Meteri Kesehatan No 97 tahun 2014.</h6><h6>Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan diskriptif analitis. Subyek penelitian adalah bidan praktik diwilayah Kabupaten Kendal dengan tri angulasi Ketua IBI Kabupaten Kendal.</h6><h6>Hasil penelitian ini didapat Di Kabupaten Kendal ada surat edaran Bupati No 440262C/dinkes tentang percepatan penurunan AKI dan AKB untuk pencapaian trget SDGs di Kabupaten Kendal membuat bidan tidak berani melakukan pertolongan persalinan di PMB. Surat Edaran tidak termasuk dalam hirarki perundangan, surat edaran bersifat pemberitahuan, tidak ada sanksi hokum bagi yang melanggar karena bukan norma.</h6><p> </p><p>Kata Kunci : Tugas Bidan, Kabupaten Kendal, Persalinan</p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> The government effort to reduce maternal mortality is one of them by issuing a policy of regulation of the Minister of Health No. 97 year 2014 on health services before pregnancy, pregnancy, childbirth, and the period of childbirth, Contraception and sexual health services in which article 14 is mentioned Labor should be in the health facility. Midwives in accordance with Permenkes No 28 year 2017 about the implementation permit midwives, midwives are given authority to help childbirth. Based on the results of preliminary survey conducted in the midwives S Kab. Kendal says Labor aid should be done in Puskesmas. The main objective in this study is to find the symptoms that exist in the research area related to the implementation of midwives ' duties in this case to help childbirth related to the medical regulation No 97 year 2014. </em></p><p><em> This method of research is qualitative with a detailed analytical approach. The subject of research is midwives practice in the region of Kendal District with Tri Angulation of IBI chairman of Kendal District.</em></p><p><em>The results of this research was obtained in Kendal District there circular letter No. 440262C/Dinkes about the acceleration of the decline of BATTERY and AKB for the achievement of Trget SDGs in Kendal District makes midwives dare not to do labor aid in self-practices Midwives. ircular letter is not included in the legal hierarchy, circular letter is notice, there is no legal sanction for the violating because it is not the norm.</em></p><em>Key words: Duty Midwives, District of Kendal, childbirth</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/255FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DISMENOREA PADA REMAJA PUTRI DI PRODI NERS STIKES WIDYA HUSADA SEMARANG2019-11-14T14:27:05+07:00Priharyanti Wulandariwulancerank@yahoo.co.idDwi Retnaningsihdwiretnaningsih81@yahoo.co.idRahayu Winartirahayuwh57@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p> </p><p>Di Indonesia 64,25% mengalami<strong> </strong><em>dismenorea</em><strong> </strong>yang terdiri dari 54,89%<strong> </strong><em>dismenorea</em><strong> </strong>primer dan<strong> </strong>9,36% <em>dismenorea</em> sekunder. Berdasarkan studi pendahuluan pada remaja putri di Prodi Ners STIKES Widya Husada Semarang Dari 70 orang responden, 51,4% mengalami <em>dismenorea</em>. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan status gizi, usia <em>menarche</em> dan siklus menstruasi dengan kejadian <em>dismenorea</em>.</p><p>Metode penelitian dengan pendekatan survei analitik, rancangan penelitian<strong> </strong><em>cross sectional</em>.<strong> </strong>Populasi sebanyak 240 remaja putri di Prodi Ners STIKES Widya Husada Semarang, teknik pengambilan sampel dengan teknik <em>proporsionate stratisfied simple random sampling,</em> jumlah sampel 150 remaja putri. Uji statistik yang digunakan adalah uji <em>Chi-Square</em> dengan p=0,05.</p><p>Hasil analisis hubungan antara status gizi dengan kejadian<strong> </strong><em>dismenorea</em><strong> </strong>nilai p<strong> </strong><em>value</em><strong> </strong>≤ 0,05 (p= 0,007),<strong> </strong>hasil statistik hubungan usia <em>menarche</em> dengan kejadian <em>dismenorea</em> dengan nilai p <em>value</em> ≤ 0,05 (p=0,05), sedangkan untuk hubungan siklus menstruasi dengan kejadian <em>dismenorea</em> dengan nilai p <em>value</em> ≥ 0,05 (p=0,291).</p><p>Ada hubungan status gizi dan usia<strong> </strong><em>menarche</em><strong> </strong>dengan kejadian<strong> </strong><em>dismenorea</em><strong> </strong>dan tidak ada<strong> </strong>hubungan siklus menstruasi dengan kejadian <em>dismenorea</em>, namun hasil-hasil penelitian ini terbatas pada subjek penelitian yang dilakukan pada remaja putri di Prodi Ners STIKES Widya Husada Semarang.</p><p><em> </em></p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> </em></p><p><em>In indonesia was 64,25% consisting of 54,89% primary dismenorea and 9,36 % secondary<strong> </strong>dismenorea . Based on the study of introduction in adolescents in PSIK STIKES Widya Husada Semarang, 51,4% experienced diysmenorrhea.The purpose of the research is to know the relations of nutritional status, the age of menarche and the menstrual cycle with an occurence of dysmenorrhea.</em></p><p><em>This was an analytical survey ,<strong> </strong>cross sectional<strong> </strong>design. The population was 240 adolescent girls in<strong> </strong>PSIK STIKES Widya Husada Semarang , the sample size was 150 adolescent obtained byproporsionate stratisfied simple random sampling.</em></p><p><em>From the research, the relationship between nutritional status with incidence of dysmenorrhea showed a<strong> </strong>p-value ≤ 0.05 ( p = 0,007 ). Statistik test relationship between age of menarche with incidence of dysmenorrhea showed a p-value ≤ 0.05 ( p = 0.00), while relationship between menstrual cycle with incidence of dysmenorrhea showed a p-value ≥ 0,05 ( p = 0,291 ).</em></p><em>There was a relationship between nutritional status and age of menarche with incidence of<strong> </strong>dysmenorrhea, while for the menstrual cycle was not associated with incidence of dysmenorrhe</em>a2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/256HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DI SMK BINA NUSANTARA KAB SEMARANG2019-11-14T13:20:27+07:00Novita Alfianinovitaalfians29@yahoo.co.idOktaviani Cahyaningsihoqt4_viani@yahoo.co.idIndah Sulistyowatiindahs_17610@yahoo.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p align="center"><strong> </strong></p><p>Masa remaja merupakan salah satu diantara dua masa rentangan kehidupan individu, dimana pada masa ini akan terjadi perubahan fisik yang sangat besar yaitu pematangan organ dan fungsi reproduksi. Pada masa ini merupakan masa yang rentan terhadap masalah kesehatan reproduksi. Banyak remaja yang mencari informasi berbagai sumber tentang kesehatan reproduksi, hal ini tentunya perlu diwaspadai karena apa yang didapatkan akan berpengaruh terhadap pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi di SMK Bina Nusantara Kab Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah explanatory research dengan menggunakan pendekatan cross sectional, dimana penelitian ini akan menghubungkan antara variable terikat (tingkat pengetahuan) dengan variable tidak bebas( sikap remaja) dengan jumlah responden sebanyak 70 orang. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan sikap remaja tentang kesehatan reproduksi di SMK Bina Nusantara Kabupaten Semarang.</p><p>Dengan hasil tersebut maka diharapkan orang tua dapat berperan secara aktif dalam membimbing anaknya dalam fase remaja ini, juga untuk pihak sekolah dapat memberikan tambahan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi</p><p> </p><p> <strong>Kata Kunci:</strong> pengetahuan, sikap, kesehatan reproduksi</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><strong><em> </em></strong></p><p><em>Adolescence is one of the two periods of individual life span, where there is a very large physical change, namely the maturation of organs and reproductive functions. At this time is a time that is vulnerable to reproductive health problems. Many adolescents are looking for information on various sources of reproductive health, this certainly needs to be aware because what is found will affect adolescents' understanding of reproductive health. This study aims to determine the relationship between knowledge and attitudes of adolescents about reproductive health at SMK Bina Nusantara Semarang District. The research method used was explanatory research using a cross sectional approach, where this study would link between the dependent variable (level of knowledge) with the dependent variable (adolescent attitudes) with the number of respondents as many as 70 people. From this study it was found that there was a significant relationship between knowledge and attitudes of adolescents about reproductive health at SMK Bina Nusantara, Semarang Regency. With these results it is expected that parents can play an active role in guiding their children in this teenage phase, also for the school to provide additional knowledge about reproductive health</em></p><p><em> </em></p><strong><em>Key word :</em></strong><em> Knowledge, attitude, reproductive Health</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/257GAMBARAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA DI UPTD PUSKESMAS MAJALENGKA KECAMATAN MAJALENGKA WETAN KABUPATEN MAJALENGKA2019-11-14T14:28:35+07:00Ade Tedi IrawaniAdetedi.irawan2@gmail.comLina Siti Nuryawatilinasn20@gmail.com<h3 align="center">ABSTRAK</h3><p><strong> </strong></p><p>Fungsi kognitif termasuk aktivitas yang luas mulai dari fungsi kognitif yang normal hingga bisa menjadi dementia. Pada dasarnya gangguan fungsi kognitif dari lima domain terdapat dua hal yang penting yaitu Terganggunya kemampuan untuk mendapatkan dan mengingat informasi yang baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi Kognitif Pada Lanjut Usia di UPTD Puskesmas Majalengka Kecamatan Majalengka Wetan Kabupaten Majalengka Tahun 2019. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian deskriptif <em>cross sectional</em>. Populasi dalam penelitian ini yaitu lanjut usia di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Majalengka Kecamatan Majalengka Wetan Kabupaten Majalengka Tahun 2019 yaitu 30 orang. Teknik pengumpulan data dengan teknik <em>Non Probability Sampeling </em>yaitu <em>Proporsive Sampling</em> sesuai kriteria inklusi dan instrumennya menggunakan kuesioner. Analisis univariat menggambarkan distribusi dan persentasi untuk mendeskripsikan karakteristik setiap variabel yang diteliti.. Hasil penelitian menunjukan bahwa Karakteristik Responden Sebagian besar berjenis kelamin perempuan (66,3%), sebagian besar responden berusia 60 – 65 tahun (73,3) dan sebagian besar responden berpendidikan rendah (66,3%) sedangkan lebih dari setengah responden (66,7%) Lanjut Usia di UPTD Puskesmas Majalengka Kecamatan Majalengka Wetan Kabupaten Majalengka Tahun 2019 mengalami penurunan fungsi kognitif.. Pentingnya dilakukan kegiatan kebersamaan di desa dengan melibatkan para lansia seperti senam pagi, ibadah, lomba, dll agar dapat terus merangsang fungsi kognitif lansia</p><p> </p><p>Kata kunci : Fungsi Kognitif, Lanjut Usia</p><p> </p><h3 align="center"><em>ABSTRACT</em><em></em></h3><p><strong> </strong></p><p><em>Cognitive functions cover a wide spectrum, ranging from normal cognitive function to dementia. Impaired cognitive function involves at least two things from five domains, namely the disruption of the ability to obtain and remember new information. This study aims to describe the cognitive function among the elderly at Majalengka CHC Unit, Majalengka Wetan Subdistrict, Majalengka District in 2019. This study was a quantitative research using a cross sectional descriptive study design. The population in this study was the elderly in the Work Area of </em><em></em><em>Majalengka CHC Unit, Majalengka Wetan Subdistrict, Majalengka District in 2018, with the samples of 30 people. Data collection used Non Probability Sampling technique namely Proporsive Sampling according to inclusion criteria and the instrument used here was a questionnaire. Univariate analysis illustrated the frequency distribution and percentage to explain or describe the characteristics of each study variable. The results showed the Characteristics of Respondents namely: The makority of respondents were female respondent (66.3%), the majority of respondents aged 60-65 years (73.3) and the majority of respondents had low education level (66.3%) while more than half of the respondents (66.7%) were elderly at Majalengka CHC Unit, Majalengka Wetan Subdistrict, Majalengka District in 2019 experienced a decline in cognitive function. It is important to hold</em><em> together activities in the village by involving the elderly such as morning gymnastics, worship, competitions, etc. in order to continue to stimulate the cognitive function of the elderly</em><em>. </em></p><em><br /> Keywords: Cognitive Function, Elderly</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/258PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG MANAJEMEN HIPERTENSI TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 20192019-11-14T13:20:27+07:00Rahayu Setyowatirsetyowati31@gmail.comSri Wahyuniyuyunyuni363@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p><strong> </strong></p><p>Hipertensi merupakan penyakit kronis yang menjadi sebab munculnya komplikasi penyakit mematikan. Manajemen hipertensi dilakukan secara farmakologis dan non farmakologis. Penatalaksannan non farmakologis dengan modifikasi gaya hidup, diet, olahraga dan manajeman stress. Informasi manajemen hipertensi dapat melalui pendidikan kesehatan secara berterusan dengan pendekatan keluarga dan individu. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap penurunan tekanan darah. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen pre and post test without controle group. Penelitian dilaksanakan bulan Mei – Juni 2019 dengan 20 responden di 5 puskesmas dinas kesehatan majalengka dengan angka kejadian hipertensi tertinggi. Pendidikan kesehatan yang diakukan melalui pendekatan keluarga dan individu. Berdasarkan hasil uji normalitas dimana tidak normal maka uji statistic yang digunakan uji Wilcoxon. Hasil analisis univariat menunjukan selisih rata-rata tekanan darah sistolik pretest dan posttest adalah 7,5 dan perbedaan tekanan darah diastolic pretest dan postes adalah 4. Dengan menggunakan uji Wilcoxon hasil analisis bivariat menunjukan adanya pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tekanan darah sistolik dan juga tekanan darah diastolic dengan nilai p value < 0,05. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah adanya pengaruh pendidikan kesehatan terhadap penurunan tekanan darah. Berdasakan hasil penelitian tersebut diharapkan petugas kesehatan dapat melaksanakan pendidikan kesehatan tentang manajemen hipertensi untuk tujuan pengelolaan kasus hipertensi di masyarakat.</p><p> </p><p><strong>Kata kunci :</strong> hipertensi, pendidikan kesehatan, tekanan darah</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> </em></p><p><em>Hypertension is a chronic disease that can cause the emergence of complications of lethal diseases. Management of hypertension can be done pharmacologically and non pharmacologically. Non-pharmacological management is carried out by modification of lifestyle, diet, exercise and stress management. Information on the management of hypertension can be done through continuous health education with a family and individual approach. This study aims to determine the effect of health education on the decrease in blood pressure among patients with hypertension. The study method used was quasi experimental with pretest and posttest without control group design. The study was conducted in May - June 2019 among 20 respondents who reported hypertension in 5 Community Health Centers in the work area of Majalengka District Health Office which had the highest incidence of hypertension. The health education was conducted through family and individual approach. Based on the results of normality test, it was proven that the data were not normally distributed. Thus statistical test used was Wilcoxon test. The result of univariate analysis showed that the difference in sistolic blood pressure between the pretest and posttest was 7.5 and the difference in diastolic blood pressure between the pretest and posttest was 4. Based on the results of bivariate analysis using the Wilcoxon test, it was revealed that there was an effect of health education on systolic blood pressure and diastolic blood pressure with a p value of <0.05. It was concluded that there was an effect of health education on the decrease in blood pressure. Based on the study findings, it is expected that healthcare providers can hold health education on hypertension management for the sake of the management of hypertension cases in the community.</em></p><p><em> </em></p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> hypertension, health education, blood pressure</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/259HUBUNGAN SUPERVISI KEPALA RUANG DENGAN PELAKSANAAN IDENTIFIKASI PASIEN SECARA BENAR DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT2019-11-14T13:20:27+07:00Menik Kustriyanimtriyanie@yahoo.co.idDwi Nur Ainidwi.nuraini00@gmail.comArifianto Arifiantoarif.dok82@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p><strong> </strong></p><p>Thomas Maria R,et al menemukan bahwa yang menjadi penyebab terjadinya kesalahan identifikasi adalah: komunikasi 8%, pemberian label 20%,nama pasien yang membingungkan 30%, faktor manusia 42% (Mulyana, 2013). Identifikasi 957 kesalahan gelang, kesalahan paling umum adalah gelang yang hilang (90,4%), ECRI Institute, 2016. Kesalahan karena keliru dalam mengidentifikasi pasien dapat terjadi hampir semua aspek atau tahapan diagnosis dan pengobatan. Supervisi merupakan salah satu fungsi dari seorang pemimpin dalam usaha untuk menjaga mutu pelayanan dan keselamatan pasien diarea tugasnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan supervisi dengan pelaksanaan identifikasi pasien secara benar di ruang rawat inap rumah sakit.</p><p>Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik<em>.</em> Metode pendekatan dengan menggunakan desain <em>cross sectional</em>. Teknik pengambilan sampel menggunakan <em>consecutive Sampling</em>, jumlah sampel 30 responden dan melakukan <em>informed consent</em>. Intrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan analisis uji <em>rank spearman.</em><em></em></p><p>Hasil: Sebanyak 76,7% responden menyatakan bahwa supervisi yang dilakukan baik, sebanyak 86,7% responden melaksanakan identifikasi pasien dengan benar di ruang Cempaka dan Kenangan RSUD Soewondo Kendal. Hasil uji statistic <em>rank spearman </em> ada hubungan supervisi dengan pelaksanaan identifikasi pasien dengan benar (<em>p </em>= 0,003) yang berarti lebih kecil dari ά = 0,05. Nilai <em>Rho</em> 0,572 yang menunjukkan tingkat keeratan hubungan sedang dan arah hubungan positif, disimpulkan semakin tinggi nilai supervisi maka akan semakin tinggi pula nilai pelaksanaan identifikasi pasien dengan benar. Sebaiknya supervisi selalu dilakukan untuk memonitor.</p><p><strong> </strong></p><p><strong>Kata kunci : Supervisi, Identifikasi pasien secara benar </strong></p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p align="center"><strong><em> </em></strong></p><p><em>Background: Thomas Maria R, et al found that the causes of misidentification are: communication 8%, labeling 20%, confusion over patients’ name 30%, human factors 42% (Mulyana, 2013). Identification of 957 mistakes was caused by the wristbands. The most common mistakes were missing wristbands (90.4%) (ECRI Institute, 2016). Errors due to misidentification of patients can occur in almost all aspects or stages of diagnosis and treatment. Supervision is one of the functions of a leader in an effort to maintain the quality of service and patient safety. The purpose of this study is to determine the relationship of the supervision with the implementation of correct patient identification in the hospital wards. Methods: This study is a quantitative analytic research. The method of approach used is cross sectional design. The sampling was obtained using consecutive sampling techniques. The number of samples is 30 respondents and uses informed consent filled in by the respondents. The data was collected using a questionnaire with Spearman rank test analysis. Results: The results showed that as many as 76.7% of the respondents stated that supervision was well conducted. There were as many as 86.7% of the respondents carried out the identification of patients correctly in the Cempaka and Kenangan room at General Hospital Soewondo Kendal. Spearman rank statistical test results showed that there is a correlation of supervision with the implementation of patient identification correctly (p = 0.003), which means less than ά = 0.05. Rho value is 0.572 which showed that the level of closeness of the relationship is moderate and the direction of relationship is positive. So, it can be concluded that the higher the value of supervision, the higher the value of the implementation of the correct patient identification. Therefore, the supervision should be gradually conducted to monitor the implementation of the correct patient identification.</em></p><p><strong> </strong></p><strong>Keywords : Supervision, Identify patients correctly</strong>2019-09-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/260FAKTOR DETERMINAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF (Studi Kasus di Wilayah Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang Tahun 2019)2020-01-16T11:04:03+07:00Dewi Sari Rochmayanidewisari.smg@gmail.comChusnul ZulaikaChusnul@gmail.com<p class="CM44" align="center"><strong>Abstrak </strong></p><p> </p><p class="CM44">Cakupan ASI eksklusif di wilayah Kecamatan Ngaliyan pada tahun 2017 masih rendah, yaitu sebesar 32,82%. Cakupan tersebut belum memenuhi target Renstra Kota Semarang sebesar 55%. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian ASI Eksklusif di wilayah Puskesmas Ngaliyan Kota Semarang.</p><p class="CM44">Penelitian termasuk penelitian observasional dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan pada 13 Rukun Warga yang terdiri dari 13 posyandu. Cara pengambilan sampel dengan consecutive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah bayi umur 6-9 bulan yang terdaftar di wilayah Puskesmas Ngaliyan Kota Semarang. Responden adalah ibu yang memiliki bayi 6-9 bulan sebanyak 49 orang.</p><p>Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pengetahuan dan sikap ibu tentang ASI eksklusif, dan dukungan keluarga terhadap praktik pemberian ASI eksklusif.</p><p><strong> </strong></p><p>Kata kunci: ASI Eksklusif, faktor ibu, dukungan keluarga</p><p><strong><em> </em></strong></p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p align="center"><strong><em> </em></strong></p><p><em>Coverage of exclusive breastfeeding in the Ngaliyan District area in 2017 is still low, at 32.82%. The coverage has not met the Semarang City Renstra's target of 55%. The research helps to analyze factors related to the implementation of exclusive breastfeeding assistance in the Ngaliyan Health Center area of Semarang City.</em></p><p><em>The study was an observational study with a cross sectional study design. The study was conducted on 13 Community Groups consisting of 13 posyandu. How to take samples by consecutive sampling. The population in this study were 6-9 months old infants proposed in the Ngaliyan Health Center area of Semarang City. Respondents are mothers who have babies 6-9 months as many as 49 people.</em></p><p><em>The results showed a significant relationship between mother's education, mother's occupation, mother's knowledge and attitudes about exclusive breastfeeding, and family support for the practice of exclusive breastfeeding.</em></p><p><em> </em></p><em>Keywords: Exclusive breastfeeding, maternal factors, family support</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/261FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG RISIKO KEHAMILAN DI USIA DINI DI DESA HEULEUT KECAMATAN KADIPATEN KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 20192019-11-14T14:30:01+07:00Heni Heniheniediani@gmail.comSuharno Suharnoharnoamazing@gmail.com<h3 align="center">Abstrak</h3><p><strong> </strong></p><p>Kehamilan pada remaja sudah semakin meresahkan masyarakat secara luas, karena dampaknya disamping putus sekolah juga dapat menghambat perencanaan masa depan remaja itu sendiri untuk mencapai cita-citanya. Hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2013, angka kehamilan perempuan usia 10 - 54 tahun sebesar 2,68%, kehamilan perempuan umur kurang dari 15 tahun meskipun sangat kecil sebesar 0,02%, sementara kehamilan pada perempuan umur remaja 15-19 tahun sebesar 1,97%. Hasil survei awal di Desa Heuleut pada tujuh remaja putri yang sudah menikah didapatkan sebanyak empat orang belum tahu tentang resiko perkawinan di usia dini. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan remaja putri tentang risiko kehamilan usia dini. Metode penelitiannya menggunakan kuantitatif dengan desain <em>cross sectional</em>. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Mei-Juni 2019 di Desa Heuleut Kadipaten Kabupaten Majalengka dengan jumlah responden adalah remaja putri yang berusia kurang dari 19 tahun sebanyak 24 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah (54,2%) remaja mempunyai pengetahuan kurang, lebih dari setengah (70,8%) berpendidikan rendah, lebih dari setengah (54,2%) keluarganya tidak bekerja dan setengahnya (50,0%) remaja tidak mengakses media informasi. Terdapat pengaruh pendidikan (<em>r</em><em> value</em> = 0,012), pekerjaan keluarga (<em>r</em><em> value =</em> 0,015) dan akses informasi (<em>r</em><em> value</em> = 0,004) terhadap pengetahuan remaja putri. Pengetahuan remaja mengenai risiko atau bahaya kehamilan usia dini sangat urgen dalam pencegahan kehamilan di usia dini dan meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan reproduksi wanita di masa yang akan datang. Saran bagi petugas kesehatan dengan melibatkan tokoh masyarakat serta tokoh agama untuk mengadakan kegiatan penyuluhan bagi masyarakat terutama remaja puteri.</p><p> </p><p>Kata kunci : Pengetahuan, Kehamilan Usia Dini, Remaja</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> </em></p><p><em>Pregnancy in adolescents has increasingly troubled society at large, because the impact aside from dropping out of school can also hinder the future planning of adolescents themselves to achieve their goals. The results of Basic Health Research in 2013, the pregnancy rate of women aged 10-54 years was 2.68%, there were pregnancies in women aged less than 15 years although very small at 0.02%, while pregnancies in adolescents aged 15-19 years amounted to 1.97%. The results of an initial survey in Heuleut Village on seven married young women found that four people did not know about the risks of marriage at an early age. The purpose of this study was to determine the factors that influence the knowledge of adolescent girls about the risk of early pregnancy in Heuleut Village, Kadipaten District, Majalengka Regency in 2019. The research method uses quantitative research with cross sectional approach. This research was conducted in May-June 2019 with the number of respondents being young women aged less than 19 years as many as 24 people. The results showed that more than half (54.2%) of adolescents had less knowledge about the risk of early pregnancy, more than half (70.8%) had low education, more than half (54.2%) of their families did not work and half ( 50.0%) adolescents do not access information media. There is an influence of education (</em><em>r</em><em> value = 0.012), family work (</em><em>r</em><em> value = 0.015) and access to information (</em><em>r</em><em> value = 0.004) on the knowledge of young women about the risk of early pregnancy. Adolescent knowledge about the risks of early pregnancy is very important to prevent pregnancy at an early age and increase awareness of women's reproductive health in the future. Suggestions for health workers by involving community leaders and religious leaders to conduct counseling activities for the community, especially young women about the risks of early pregnancy..</em></p><p><em> </em></p><p><strong><em>Keywords: Knowledge, Early Pregnancy, Teenagers</em></strong><strong><em>.</em></strong></p>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/262HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KETERATURAN ANTENATAL CARE (ANC) PADA IBU HAMIL DI KARANGSARI AGUNG BOYO KARANGTENGAH DEMAK2019-11-14T13:20:27+07:00Masfufatun Jamilmasfufatunjamil@gmail.comCempaka Kumala Saricempaka.sari87@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p> </p><p>Menurut Organisasi Kesehatan Dunia antenatal care bertujuan untuk mendeteksi secara dini terjadinya resiko tinggi terhadap kehamilan dan persalinan juga dapat menurunkan angka kematian ibu dan memantau keadaan janin. Ada baiknya pemeriksaan kehamilan dilakukan sebulan sekali hingga usia 6 bulan, sebulan dua kali pada usia 7-8 bulan dan seminggu sekali ketika usia kandungan menginjak 9 bulan. Pengetahuan dan sikap adalah salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang dalam berperilaku termasuk perilaku ibu hamil dalam keteraturan kunjungan antenatal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Dengan Keteraturan Antenatal Care( ANC) Pada Ibu Hamil Di Karangsari Agung Boyo Karangtengah Demak.</p><p>Penelitian ini dilaksanakan dengan metode cross sectional, pemilihan sampel dengan total sampling. Sampel 30 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuisioner yang dibuat oleh peneliti dan diisi oleh responden. Selanjutnya data yang terkumpul diolah dengan menggunakan bantuan computer program SPSS versi 20 untuk dianalisa dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan (α) 0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengetahuan dengan kategori baik 90% (27 orang) dan kurang baik 10% (3 orang). Untuk keteraturan pemeriksaan antenatal care kategori teratur 93,3% (28 orang) dan tidak teratur 6,7% (2 orang). Kesimpulan dalam penelitian ini ada hubungan antara pengetahuan ibu hamil dengan keteraturan pemeriksaan antenatal care.</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci</strong>: Pengetahuan, keteraturan, pemeriksaan antenatal care</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> </em></p><p><em>According to the World Health Organization antenatal care aims to detect early the occurrence of high risk of pregnancy and childbirth can also reduce maternal mortality and monitor the state of the fetus. It's good to have a pregnancy check up once a month until 6 months of age, twice a month at the age of 7-8 months and once a week when the womb turns 9 months. Knowledge and attitude are one of the factors that influence someone in their behavior including the behavior of pregnant women in regular antenatal visits. The purpose of this study was to determine the Relationship between Knowledge and Regular Antenatal Care (ANC) in Pregnant Women Di Karangsari Agung Boyo Karangtengah Demak </em></p><p><em>This research was conducted by cross sectional method, sample selection with total sampling. Sample of 30 respondents. Data collection is done by filling out questionnaires made by researchers and filled out by respondents. Furthermore, the data collected was processed using the SPSS version 20 computer program to be analyzed with the chi-square test with a significance level (α) 0.05. The results showed that knowledge with good category was 90% (27 people) and not good enough 10% (3 people). For regular antenatal care examination 93.3% (28 people) and irregular categories 6.7% (2 people). The conclusion in this study there is a relationship between the knowledge of pregnant women with regular antenatal care examinations.</em></p><p><em> </em></p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Knowledge, regularity, antenatal care examination</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/263GAMBARAN KUALITAS TIDUR BAYI USIA 3 – 6 BULAN SETELAH DILAKUKAN PIJAT BAYI MENGGUNAKAN ENSSETIAL OIL LAVENDER DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CIGASONG KABUPATEN MAJALENGKA2019-11-14T14:31:32+07:00Idris Handrianaidrishandriana19@yahoo.co.idYophi NugrahaYophy.nugraha86@yahoo.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p align="center"><strong> </strong></p><p>Kualitas tidur bayi sangat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan. Dimana bayi dengan kualitas tidur yang baik maka memiliki perkembangan yang baik pula, bayi yang aktif dan tumbuh normal biasanya mempunyai waktu tidur yang baik. Secara umum penelitian ini bertujuan mengetahui Gambaran Kualitas Tidur Bayi Usia 3 – 6 Bulan Setelah Dilakukan Pijat Bayi Menggunakan Enssetial Oil Lavender Di Wilayah Kerja Puskesmas Cigasong Kabupaten Majalengka. Jenis penelitian ini adalah penelitian <em>deskriptif</em><em> . </em>Populasi penelitian ini adalah semua anak usia 3-6 bulan yang melakukan imunisasi di wilayah kerja puskesmas Cigasong Kabupaten Majalengka, yaitu 40 bayi.<strong> </strong><strong> </strong>Jumlah sampel ditentukan menggunakan rumus sebanyak 32 bayi. Hasil menunjukan bahwa rata-rata nilai kualitas tidur pada bayi sebelum diberikan terapi pijat bayi menggunakan <em>essential oil </em>lavender dari 32 bayi yaitu 8.70 - 9.55 (95% CI) dengan standar deviasi 1.185. skor kualitas tidur terendah 7 dan tertinggi 11. Sedangkan rata-rata nilai kualitas tidur pada bayi setelah diberikan terapi pijat bayi menggunakan <em>essential oil </em>lavender dari 32 bayi yaitu 10.44 – 11.81 (95% CI ) dengan standar deviasi 1.897. Skor kualitas tidur terendah 9 dan tertinggi 14. Peran petugas kesehatan hendaknya lebih memperhatikan masalah pemenuhan tidur bayi sehingga petugas mampu memberikan asuhan keperawatan yang paripurna, tidak hanya terbatas pada tindakan pendidikan kesehatan saja tetapi memberikan contoh cara pijat bayi yang benar sehingga ibu dapat mempraktekkan pijat bayi di rumah, pemberian leaflat yang disertai gambar tentunya jauh lebih dipahami ibu daripada sekedar pendidikan kesehatan.</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci</strong> : Konsep bayi, Pijat Bayi, Kualitas Tidur</p><h3> </h3><h3 align="center"><em>Abstract</em></h3><h3 align="center"><em> </em></h3><h3><em>The quality of a baby's sleep greatly influences the development and growth of the baby. Where babies with good sleep quality have good development too, babies who are active and grow normally usually have good sleep. This study aims to determine the Description Of Baby Sleep Quality Age 3-6 Months After The Baby Massage Is Used Ensetial Oil Lavender In The Cigasong Puskesmas Work Area In Majalengka District. This type of research is descriptive research. The population of this study were all children aged 3-6 months who had immunized in the working area of the Cigasong Community Health Center in Majalengka Regency, which were 40 babies. The number of samples was determined using a formula of 32 infants. The results showed that the average value of sleep quality in infants before being given baby massage therapy using lavender essential oil from 32 infants is 8.70 - 9.55 (95% CI) with a standard deviation of 1.185. the lowest sleep quality score of 7 and the highest 11. While the average value of sleep quality in infants after being given baby massage therapy using lavender essential oil of 32 babies is 10.44 - 11.81 (95% CI) with a standard deviation of 1,897. The lowest sleep quality score is 9 and the highest is 14. The role of health workers should pay more attention to the problem of fulfilling baby's sleep so that the officer is able to provide complete nursing care, not only limited to health education measures but provides examples of how to massage the baby properly so that mothers can practice baby massage at home, providing leaflat accompanied by pictures of course much more understood by mothers than just health education.</em><em></em></h3><h3><em> </em><strong style="font-size: 10px;"><em>Keywords:</em></strong><em style="font-size: 10px;"> Baby concept, Baby Massage, Sleep Quality</em></h3>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/264EDUKASI PIJAT PERINEUM PADA KELAS IBU HAMIL TERHADAP ROBEKAN PERINEUM PADA IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA > 34 MINGGUDI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS DTP MAJA2019-11-14T13:20:27+07:00Lina Siti Nuryawatilinasn20@gmail.comYeti Yuwansyahyetiyuwansyah@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p> </p><p>Robekan/ruptur perineum dapat diminimalkan dengan tindakan preventif pada saat kehamilan yaitu dengan tindakan pijat perineum yang dapat dilakukan pada ibu hamil mulai kehamilan 34 minggu atau mendekati persalinan antara usia kehamilan 37-42 minggu dengan ibu hamil yang tidak mengalamiluka pada daerah kelamin dan atau perineum..Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi pijat perineum pada kelas ibu hamil terhadap robekan perineum pada Ibu hamil primigravida > 34 Minggudi wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP MajaPenelitian ini menggunakan jenis penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimen dengan cara Posttest Only Desig. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil primigravida > 34 minggu di wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Maja sebanyak 42 orang. Penelitiannya dilakukan pada tanggal 25 Maret 2019 sampai dengan 2 Mei 2019. Analisis data menggunakan univariat dan bivariat yang menggunakan uji statistik menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata derajat robekan perineum ibu adalah derajat II 45,23%.. Ada edukasi pijat perineum pada kelas ibu hamil terhadap robekan perineum pada Ibu hamil primigravida > 34 Minggudi wilayah kerja UPTD puskesmas DTP Maja Tahun 2019 (ρ = 0,011) . edukasi pijat perineum perlu diberikan hanya di kelas ibu hamil saja bisa dengan cara mempraktekannya langsung.pada saat kunjungan antenatal dan di rumah masing – masing dengan cara menggunakan lembar ceklis dan leaflet yang diberikan pada pasien.</p><p> </p><p><strong>Kata kunci:</strong> edukasi Pijat Perineum, Derajat Robekan Perineum, Ibu Hamil</p><p> </p><p align="center"><strong>Abstract</strong></p><p> </p><p>Perineal tear/rupture can be minimized by preventive measures during pregnancy, one of which is by perineum massage that can be performed on pregnant women starting at 34 weeks of gestation or approaching childbirth between 37-42 weeks of gestation so as pregnant women will not experience genital and/or perineum wounds. This study aims to determine the effect of education on perineal massage in pregnant women class on perineal tear among primigravida pregnant women at >34 weeks of gestation in the work area DTP Maja CHC Unit in 2019. This study was a pre-experimental study using Posttest Only Design approach. The samples in this study were primigravida pregnant women at >34 weeks of gestation in the work area DTP Maja CHC Unit as many as 42 people. The study was conducted on March 25, 2019 until May 2, 2019. Data analysis used univariate analysis with frequency distribution and bivariate analysis with Wilcoxon Signed Ranks Test. The results showed that the mean degree of perineal tear among women was the second degree of 45.23%. There was an effect of education on perineal massage in pregnant women class on perineal tear among primigravida pregnant women at >34 weeks of gestation in the work area DTP Maja CHC Unit in 2019 (ρ=0.011). Education on perineal massage should be given not only in the pregnant women class by practicing it directly, but also during antenatal visits in the health facilities and home visits during pregnancy by using checklist sheets and leaflets given to patients.</p><p> </p><strong>Keywords:</strong> Education on Perineum Massage, Perineal Tear Degree, Pregnant Women2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/265GAMBARAN PENGETAHUAN TENTANG IUD POST PLASENTA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS ARGAPURA KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 20192019-11-14T14:32:20+07:00Lia Natalialianataliahaning@gmail.comInna AntrianaInnanasya@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p align="center"> </p><p>KB IUD yang dapat dipasang 10 menit setelah persalinan atau setelah plasenta lahir disebut dengan IUD <em>post placenta</em>, selanjutnya juga akan berfungsi seperti IUD yang dipasang saat siklus menstruasi. Di UPTD Puskesmas Argapura tahun 2017 yang menggunakan IUD sebesar 0,45% dan tahun 2018 sebesar 5,04%, walaupun mengalami kenaikan IUD namun tidak ada yang menggunakan IUD <em>post </em>plasenta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang IUD <em>post </em>plasenta pada ibu hamil di UPTD Puskesmas Argapura Kabupaten Majalengka tahun 2019.</p><p>Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif <em> </em>dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampelnya ibu hamil trimester 3 sebanyak 30 orang. Penelitian dilakukan pada bulan Maret-Juni 2019 di UPTD Puskesmas Argapura. Analisa data yang digunakan adalah distribusi frekuensi.</p><p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa setengahnya dari responden termasuk dalam kategori pengetahuan tinggi (50,0%). Pengetahuan tentang IUD Post plasenta ( 30 pertanyaan) dengan jawaban yang paling tinggi adalah pengertian (76,7%) sedangkan pertanyaan dengan jawaban yang paling rendah adalah pertanyaan cara kerja dan cara pemasangan (50,0%).</p><p>Diharapkan bidan dapat memberikan konseling yang mendalam tentang KB IUD <em>Post</em> Plasenta kepada ibu hamil trimester 3 dengan bantuan leaflet atau poster. Bagi akseptor, dalam melaksanakan <em>Antenatal care</em> harus lebih aktif lagi pada saat dilakukan konseling oleh bidan tentang IUD Post Plasenta</p><p> </p><p>Kata kunci : Pengetahuan, IUD Post plasenta</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p align="center"><em> </em></p><p><em>An IUD that can be inserted 10 minutes after delivery or after the placenta is expelled is called a post placental IUD, and will also function like an IUD that is inserted during the menstrual cycle. Data from Argapura CHC Unit showed 0.45% acceptor used IUD in 2017 and 5.04% acceptor used IUD in 2018. Despite an increase in the use of IUD but no one used post placental IUD. </em><em>This study aims </em><em>to determine the level of knowledge about post placental IUD among women in the third Trimester of pregnancy at Argapura CHC Unit, Majalengka District in 2019.</em></p><p><em>This was a descriptive with cross sectional approach. The samples were women in the third Trimester of pregnancy as many as 30 people. The study was conducted in March-June 2019 at Argapura CHC Unit. Data analysis used frequency distribution.</em></p><p><em>The results showed that half of the respondents were included in the category of high level of knowledge (50.0%). Knowledge on Post Placental IUD (30 questions) was reflected from the highest score in the question about understanding (76.7%) while the lowest score was in the question about how it worked and the insertion technique of post placental IUD (50.0%).</em></p><p><em>It is expected that midwives can provide in-depth counseling on Post Placental IUD to women in the third Trimester of pregnancy using props such as leaflets or posters. Acceptors are recommended to be more active during the counseling on Post Placental IUD provided by the midwife during antenatal care visit.</em></p><em> <br /> Keywords: Knowledge, Post placenta IUD</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/266HUBUNGAN GAMBARAN DIRI DENGAN TINGKAT KECEMASAN WANITA MASA PREMENOPAUSE DI DESA KRIKILAN, KECAMATAN SUMBER, KABUPATEN REMBANG2019-11-14T14:33:03+07:00Yuli Irnawatiyuliirnawati30@gmail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong><strong></strong></p><p><strong> </strong></p><p>Pada tahun 2016 saat ini di Indonesia baru mencapai 14 juta perempuan menopause atau 7,4 % dari total populasi yang ada. Sementara perkiraan umur rata-rata usia menopause di Indonesia adalah 48 tahun.</p><p>Berdasarkan survey awal terhadap 15 wanita masa premenopause usia 40-50 tahun, 5 orang menerima gambaran diri sedangkan 10 orang tidak menerima gambaran diri sedangkan dan 10 orang mengalami kecemasan sedang 3 orang mengalami kecemasan ringan dan 2 orang mengalami kecemasan berat.</p><p>Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan gambaran diri dengan tingkat kecemasan wanita premenopause di Desa Krikilan Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang.</p><p>Jenis peneitian yang digunakan adalah analitik korelasi dengan metode penelitian <em>survey</em>, pendekatan waktu <em>cross sectional. </em>Populasi dalam penelitian ini adalah semua wanita premenopause usia 40-50 tahun jumlah populasi sebanyak 157. Teknik sampling yang digunakan <em>simple random sampling</em> atau pengambilan sampel secara acak berdasarkan alokasi proporsional dengan peneliti sebanyak 61 responden.</p><p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara Gambaran diri dengan tingkat kecemasan pada wanita premenopause, yaitu dengan X² hitung (17,014) > (5,991) dan ρ value = 0,000 < 0,05.</p><p>Saran untuk wanita yang mengalami premenopause untuk meningkatkan keaktifan wanita masa premenopause ke tempat pelayanan kesehatan untuk memperoleh informasi tentang premenopause</p><p> </p><p><strong><em> </em></strong><strong>K</strong><strong>ata Kunci</strong>: Premenopause, Gambaran Diri, Kecemasan</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong><strong><em></em></strong></p><p><strong> </strong></p><pre>In 2016, currently there are only 14 million menopause women in Indonesia or 7.4% of the total population. While the estimated age of menopause in Indonesia is 48 years. Increasing life expectancy causes more and more women to experience menopause (Depkes RI,2014).</pre><pre>Based on the initial survey of 15 premenopause women aged 40-50 years, 5 people received a self-image while 10 people did not receive a self-image, 3 people with good knowledge while 12 people with less knowledge and 10 people experienced moderate anxiety 3 people experienced mild anxiety and 2 people experience severe anxiety.</pre><pre>The purpose of this study was to determine the relationship of self-image and knowledge to the anxiety level of premenopause in Krikilan, Sumber, Rembang..</pre><pre>The type of research used is correlation analysis with survey research methods, cross sectional time approach. The population in this study were all premenopausal women aged 40-50 years the population was 157. The sampling technique used was simple random sampling or random sampling based on proportional allocation with researchers as many as 61 respondents.</pre><pre>The results showed that there was a relationship between self-image and anxiety levels in premenopause women, with X² count (17,014)> (5,991) and ρ value = 0,000 <0,05. There is a relationship between knowledge and anxiety levels in premenopause women, with X² count (33,882)> (5,991) and ρ value = 0,000 <0,05.</pre><pre>Suggestions for premenopause women to increase knowledge about changes in the premenopause period so that they do not feel anxious about facing menopause and increase the activity of premenopause women to health services to obtain information about premenopause</pre><pre> </pre><strong>Keywords</strong>: Premenopause, Self-image, Anxiety2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/267HUBUNGAN PEKERJAAN DENGAN PENGETAHUAN WUS TENTANG DETEKSI DINI KANKER SERVIKS MELALUI IVA DI WILAYAH PUSKESMAS BERGAS2019-11-14T13:20:27+07:00Masruroh Masrurohmasrurohazzam@gmail.comCahyaningrum Cahyaningrumcahya.ningrum@ymail.com<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p> </p><p>Kanker serviks saat ini menduduki urutan kedua dari penyakit kanker yang menyerang perempuan di dunia dan urutan pertama untuk perempuan di negara berkembang. Pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) sebagai salah satu alternatif pemeriksaan dianggap sebagai pemeriksaan yang relatif lebih murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan dengan peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi. Namun, masih rendahnya pelaksanaan deteksi dini yaitu kurang dari 5% menjadi masalah tersendiri bagi negara Indonesia khususnya. Upaya promotif, preventif, deteksi dini, dan tindak lanjut perlu dilakukan agar kesadaran dan kepedulian masyarakat dalam deteksi dini kanker serviks meningkat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan pekerjaan dengan pengetahuan tentang deteksi dini kanker serviks melalui IVA di wilayah Puskesmas Bergas.Desain peenlitian adalah deskriptif korelatif denga pendekatan cross seksional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita usia subur (WUS) di wilayah Puskesmas Bergas Kabupaten Semarang dengan jumlah 9138 orang berdasarkan data Puskesmas Bergas tahun 2018, Sampel dalam penelitian ini adalah wanita usia subur yang terdapat terdapat di desa Ngempon dan Desa Karangjati dengan cakupan IVA terendah di Puskesmas Bergas. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 responden, teknik sampling dengan simpel random sampling, Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Bergas yaitu di desa Ngempon dan Desa Karangjati, instrumen penelitian menggunaan kuesioner, teknik pengambilan data primer dan analisis data univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariat dengan chi-square. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar responden adalah tidak bekerja bekerja sejumlah 21 (52.5%), sebagian besar pengetahuan responden dalam kategori cukup yaitu sejumlah 23 (57.5%). Berdasarkan analisa bivariat diketahui ada hubungan antara pekerjaan dengan pengetahuan WUS tentang deteksi dini kanker serviks melalui IVA di wilayah puskesmas Bergas.</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci</strong>: pekerjaan,pengetahuan,WUS,kankerserviks,IVA</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> </em></p><p><em>Cervical cancer currently ranks second from cancer that attacks women in the world and first place for women in developing countries. Acetic Acid Visual Inspection Examination (IVA) as an alternative examination is considered as a relatively inexpensive, practical, very easy examination to be carried out with simple equipment and can be carried out by health workers other than gynecologists. However, the still low implementation of early detection which is less than 5% is a problem for the country of Indonesia in particular. Promotive, preventive, early detection and follow-up efforts need to be done so that public awareness and concern in the early detection of cervical cancer increases. The purpose of this study was to determine the relationship of work with knowledge about early detection of cervical cancer through IVA in the area of Bergas Puskesmas. Research design is descriptive correlative with cross-sectional approach. The population in this study were all women of childbearing age (WUS) in the area of Puskesmas Bergas Semarang Regency with a total of 9138 people based on the data of Pusas Bergas in 2018. The sample in this study was women of childbearing age found in Ngempon and Karangjati villages with the lowest IVA coverage at the Bergas Health Center. The sample size in this study were 40 respondents, simple random sampling technique, the study was conducted in the area of Puskesmas Bergas, namely in Ngempon and Karangjati villages, the research instrument used questionnaires, primary data collection techniques and univariate data analysis with frequency distribution and bivariate with chi -square. The results showed that the majority of respondents were not working, a total of 21 (52.5%), most of the respondents' knowledge was in the sufficient category of 23 (57.5%). Based on bivariate analysis, it is known that there is a relationship between work and WUS knowledge about early detection of cervical cancer through IVA in the area of Bergas puskesmas.</em></p><p><em> </em></p><strong><em>Keywords:</em></strong><em> occupation, knowledge, WUS, cancer, IVA</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/268POLA ASUH DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN HIV/AIDS DI LENTERA SURAKARTA2019-11-14T13:20:27+07:00Riska Alandaniralandani4@gmail.comMursudarinah Mursudarinahmursudarinah@yahoo.co.id<p align="center"><strong>Abstrak</strong></p><p> </p><p>Latar Belakang: AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi dengan virus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pola asuh yang sesuai dapat mempengaruhi terapi Antiretroviral (ARV) dari anak yang terinfeksi HIV/AIDS. Faktor terpenting dalam keberhasilan terapi ARV adalah kepatuhan penderita HIV/AIDS untuk meminum obat. Tujuan: Mengetahui hubungan pola asuh dengan kepatuhan minum obat pada pasien HIV/AIDS di Lentera Surakarta. Metode: Penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, dengan jumlah sampel penelitian 27 responden, instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Data menggunakan metode analisa univariat, bivariat dan chi-square. Hasil: Hasil menunjukkan sebanyak 14 orang (51,9%) responden mendapatkan pola asuh yang baik dari pengasuhnya dan 16 orang (59,3%) responden memiliki tingkat kepatuhan yang patuh. Kesimpulan: Pola asuh terhadap pasien HIV/AIDS mayoritas baik, tingkat kepatuhan minum obat pada pasien HIV/AIDS mayoritas patuh, jadi terdapat hubungan pola asuh dengan kepatuhan minum obat pada pasien HIV/AIDS di Lentera Surakarta. Saran : Anak Penderita HIV/AIDS diharapkan agar anak-anak selalu semangat dan patuh dalam menjalankan pengobatan. Serta mereka membutuhkan perhatian dan dukungan dari masyarakat dan pemerintah. Para pengasuh yang berada di yayasan tersebut dapat memberikan pola asuh yang baik, kasih sayang dan perhatian yang sesuai pada anak-anak penderita HIV/AIDS.</p><p> </p><p><strong>Kata kunci:</strong> pola asuh, kepatuhan minum obat ARV, pasien HIV/AIDS.</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> </em></p><p><em>Background: AIDS is a disease caused by an infection with a virus called Human Immunodeficiency Virus (HIV). Appropriate parenting can effect Antiretroviral (ARV) therapy of children infected HIV/AIDS. The most important factor in the success of ARV therapy is the adherence of HIV/AIDS to taking medication. Objective: To know the relationship of foster pattern with adherence to taking medication in HIV/AIDS patients in Surakarta lantern. Method: Quantitative research using a cross sectional approach. Sampling using purposive sampling techniques, with the number of research samples of 27 respondents, instruments using questionnaires. Data is used method of Univariat, sufficient and chi-square. Result: The results showed as much as 14 people (51.9%) Respondents received a good foster pattern from his caregivers and 16 people (59.3%) The respondent has a obedient level of obedience. Conclusion: Parenting for patients with HIV/AIDS is good, the level of compliance with medication in HIV/AIDS patients is compliant, so there is a relationship between parenting and medication compliance in patients with HIV/AIDS in Surakarta Lentera. Suggestion: Children with HIV / AIDS are expected that children are always enthusiastic and obedient in carrying out treatment. And they need attention and support from the community and government. The caregivers who are at the foundation can provide good parenting, affection and appropriate attention to children with HIV / AIDS.</em></p><p><em> </em></p><strong><em>Key words</em></strong><em>: foster pattern and ARV-drinking compliance, HIV/AIDS patients.</em>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husadahttps://journal.uwhs.ac.id/index.php/psnwh/article/view/241PEMBERDAYAAN ORANG TUA (PARENT EMPOWERMENT) DALAM UPAYA MENGATASI ANSIETAS ORANG TUA DENGAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH2020-12-10T14:49:22+07:00Qurrotul Aeniqurrotul80@gmail.comNovi Indrayatinoviindrayati68@gmail.comDwi Haryantidu2_by@yahoo.com<p>Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa kehamilan. Kondisi BBLR dan kebutuhan bayi akan perawatan khusus, dapat menimbulkan gangguan psikologis bagi bayi dan orangtua, hal ini terjadi karena secara psikologis orang tua belum siap untuk menghadapi kondisi bayinya. Kelahiran BBLR dan perawatan bayi diruang intensive merupakan kejadian yang tidak diharapkan orangtua dan dapat menimbulkan kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan keefektifan intervensi keperawatan dalam mengatasi ansietas (kecemasan) orangtua yang memiliki BBLR melalui pemberdayaan orangtua(parent empowerment). Jenis penelitian yang gunakan pada penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan pre post test without control group. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah semua orangtua yang memiliki bayi BBLR dengan jumlah 40 orangtua dengan menggunakan menggunakan teknik pengambilan sampel secara total accidental. Alat ukur penelitian yang digunakan pada penelitian ini untuk mengukur ansietas orangtua adalah dengan kuesioner DASS (Depression Anxiety Stress Scale) yang terdiri 14 pertanyaan terkait ansietas. Analisis univariat pada penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji Wilcoxon. Hasil analisis uji statistik didapatkan P value 0,016, hal ini menunjukan bahwa ada perbedaan tingkat ansietas orangtua yang mempunyai BBLR di ruang Perinatologi RS Se-Kabupaten Kendal sebelum dan sesudah diberikan intervensi pemberian pendidikan kesehatan tentang perawatan BBLRkepada orangtua (parent empowerment). Berdasarkan hasil penelitian, diharapkan adanya pendidikan kesehatan di RS tentang perawatan BBLR pada keluarga yang memiliki BBLR untuk menurunkan tingkat ansietas. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti tentang metode pendidikan kesehatan pada orangtua dengan BBLR agar informasi dapat diterima dengan efektif dan efisien.</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci:</strong> Ansietas, BBLR, parent empowerment</p><p> </p><p align="center"><strong><em>Abstract</em></strong></p><p align="center"><strong><em> </em></strong></p><p><em>Low birth weight babies (LBW) are babies born with birth weight less than 2,500 grams regardless of pregnancy. LBW conditions and the baby's need for special care, can cause psychological disorders for babies and parents, this happens because psychologically parents are not ready to deal with the condition of their babies. LBW births and baby care in the intensive room are events that are not expected by parents and can cause anxiety. The purpose of this study is to prove the effectiveness of nursing interventions in overcoming anxiety (anxiety) of parents who have LBW through parent empowerment. This type of research used in this study is a quasi-experimental with pre-post test without control group. The population and sample in this study were all parents who had LBW babies with a total of 40 parents using total accidental sampling techniques. The research measuring instrument used in this study to measure parental anxiety is the DASS (Depression Anxiety Stress Scale) questionnaire consisting of 14 questions related to anxiety. The univariate analysis in this study uses the frequency distribution, while the bivariate analysis uses the Wilcoxon test. The results of the statistical test analysis obtained P value 0.016, this shows that there are differences in the level of anxiety of parents who have LBW in the Perinatology Room of Kendal Regency Hospital before and after the intervention of providing health education about LBW care to parents (parent empowerment). Based on the results of the study, it is expected that there is health education in hospitals about LBW care for families who have LBW to reduce anxiety levels. The next researcher is expected to be able to examine the methods of health education for parents with LBW so that information can be received effectively and efficiently.</em></p><p><strong> </strong></p><p><strong><em>Keywords:</em></strong> <em>Anxiety, Low Birth Weigh, parent empowerment</em></p>2019-10-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2019 Prosiding Seminar Nasional Widya Husada